Apakah ini merupakan tetesan air mata malam Lailatul Qadar?

September 15, 2009 at 6:47 am Tinggalkan komentar

Spiritual Journey in Ramadhan 1430H

Nik Abdul Aziz Nik Mat

Bismillah.

Tika itu adalah malam ke-25 di bulan Ramadhan 1430H dimana menjadi isyarat yang telah disabdakan Rasulullah saw akan tanda-tanda turunnya malam Lailatul Qadar, Rasulullah saw bersabda:”Carilah dia (lailatul qadar) pada sepuluh malam terakhir di malam-malam ganjil.” (HR. Bukhori Muslim). Oleh karena itu jauh-jauh hari sebelumnya saya ber-azam untuk istiqamah melaksanakan shalat tarawih dan qiamul ramadhan sepenuhnya terkhusus di sepuluh malam terakhir lebih-lebih lagi di malam-malam ganjil.

Sebelum menjelang malam, pada sore harinya saya bersama istri berangkat ke Dokter spesialis kandungan untuk pemeriksaan pertama kandungan istri dengan USG dikarenakan ada flek darah yang tidak kunjung berhenti dan ini membuat kami was-was takut ada kelainan pada awal kandungan yang baru berusia 6 minggu ini, selama pendaftaran dan menunggu giliran saya diliputi kecemasan dan tak henti-hentinya mencoba untuk terus bertasbih memohon kepada Allah SWT atas kesehatan istri dan kandungannya, begitupun halnya dengan istri saya, saya ingatkan untuk bertasbih daripada hanya melamun. Menit demi menit pasien lainpun silih berdatangan untuk konsultasi dan pengecekan rutin kandungan. Setelah hampir satu jam kami menunggu Dokter yang dinanti-nanti belum juga kunjung datang, hanya menambah kecemasan kami saja, jam pun sudah menunjukan pukul 17.25……ya, hampir tiba saatnya untuk berbuka…beberapa saat kemudian berderinglah telepon genggam asisten Dokter dan setelah kami dengar-dengar pembicaraan mereka ternyata itu adalah panggilan dari pak Dokter yang ternyata memberikan informasi bahwa praktek hari ini ditunda sampai pukul 18.30, bersamaan dengan peluh jenuhnya menunggu disertai dengan kecemasaan kami pun pulang ke rumah untuk berbuka dan shalat.

Ketika saatnya berbuka saya tak menyia-nyiakan waktu yang mustajab itu untuk berdo’a kepada Allah karena saya ingat orang yang berpuasa akan diberikan dua kenikmatan yaitu akan bertemu dengan Rabb-nya yang pertama ketika telah hilang dahaga (waktu berbuka) dan kedua bertemu dengan NYA di Syurga nanti (insyaAllah…), itulah yang membuat setiap do’a hamba yg berbuka akan diijabah oleh NYA, dalam do’aku “Ya Allah, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Sang Pemilik langit dan bumi berilah kesehatan dan kekuatan pada istri saya dan janin dalam kandungannya, sesungguhnya Engkau Maha Pengabul do’a-do’a, Amiin.” Setelah itu saya segera makan dan setelah semua itu,  kami pun bersiap untuk kembali ke klinik dan setelah sampai disana Alhamdulillah ternyata pak Dokter sudah tengah melayani pasiennya yang memang dari sore tadi sudah mengantri untuk berkonsultasi, tak beberapa menit kami menunggu akhirnya asisten Dokter memanggil “Bu Tuti, silahkan….” “Alhamdulillah sudah dipanggil tu Yank..” sahut saya kepada istri, istri pun bersiap membuka jaket dan menyimpan tas nya lalu masuk ke ruangan praktek yang dikuti oleh saya, dibaringkanlah istri saya lalu Dokter dengan dibantu asistennya mulai memeriksa perut istri saya dengan USG-nya. Berapa saat dimonitor USG dan Televisi munculah gambaran isi kandungan istri saya dan dokter berkata ”Ya..positif berusia 6 minggu” lalu istri saya berkata “Tidak ada kelainan ya Dok soalnya beberapa hari ini muncul terus flek darah..padahal saya minum terus obat untuk memberhentikan darah haid yang diberikan oleh bu Bidan” lalu kata pak Dokter “Nga apa-apa yang penting banyak istirahat dan lajutkan makan obatnya” lalu munculah cetakan kandungan dari USG dan serentak kami mengucap Alhamdulillah tidak ada kelainan apa-apa dan ketika dilihat cetakan USG nya janinnya baru sebesar 2 cm, dengan rasa gembira dan ucapan syukur alhamdulillah kamipun berpamitan kepada Dokter dan asistennya untuk pulang. Sepanjang dalam perjalanan kami saling berkata “Alhamdulillah ya A.. ngak ada apa-apa” “Iya…Yank Alhamdulillah gak ada apa-apa” sahut saya, “Alhamdulillah do’a Aa.. diijabah oleh Allah” kata istri saya, “Alhamdulillah..” sahut saya lagi, kamipun terus dihiasi rasa gembira sepanjang jalan hingga sampai ke rumah. Sesampai di rumah-pun istri saya dengan bangga dan penuh syukur  memberi tahukan kepada ibu dan saudara-saudaranya atas hasil tes pemeriksaan itu.

Setelah shalat Isya di rumah saya bersiap-siap dan bergegas untuk pergi mabit dan ‘itikaf ke Masjid Raya Habibburrahman PT.Dirgantara Indonesia – Bandung yang letaknya tak begitu jauh dari tempat kami dan memang setiap Ramadhan menjelma kami senantiasa melaksanakan mabit da ‘itikaf di mesjid itu, “pergi mabit sendiri A?” tanya istri saya, “Iya. Yayank kan harus banyak istrirahat biar cepet sembuh dan sehat ya…” sahut saya dengan nada lembut. Memang mabit dan ‘itikaf tahun ini saya hanya berangkat sendiri tak seperti tahun-tahun kemarin yang selalu ditemani-nya,  namun dari itu saya pun tak merasa sepi dan mengurangi rasa syukur kepada Allah SWT dengan absennya istri untuk mendampingi saya ber’itikaf , mungkin malahan saya harus menambah rasa ke-syukur-an kepada NYA di saat-saat ‘itikaf saya, karena DIA  telah mengabulkan do’a istri saya dibulan Ramadahan ini dengan segera memberikan buah hati pertama kepada kami.Allahu akbar.

Tak sampai satu jam perjalanan saya pun tiba di Masjid raya Habibburrahman, lalu memarkir motor saya dan tampak sekali dihalaman parkir mobil dan motor sudah berjejer memenuhi lapak parkir yang telahdisediakan oleh panitia ‘itikaf, nampaknya jama’ah ‘itikaf sudah banyak berada didalam dan pelataran/pendopo masjid, saya pun mulai memasuki pelataran/pendopo masjid dan dilihat sudah cukup banyak orang disana mulai dari anak-anak sampai orang tua dari yang hanya sendirian sampai yang membawa “kesebelasan” dan dari yang beralaskan lantai sampai yang beralaskan kasur dibarengi selimut kemudian tak sedikit pula mereka yang berasal dari luar kota Bandung untuk ber-i’tikaf selama sepuluh hari penuh dengan memboyong semua anggota keluarganya disamping itu tak lupa pula bazaar yang dipenuhi oleh para pedagang yang menggelar barang-barang dagagannya ada yang jual buku-buku, cd, vcd, pakaian, makanan semuanya tumpah ruah mengisi ruang-ruang  pelataran/pendopo masjid menyemarakan malam-malam ‘itikaf apalagi didalam masjid pasti sudah berjejalan jama’ah, kalau dipikir-pikir sejenak inilah wisata ruhani tahunan keluarga besar yang cocok nan murah-meriah namun bernilai pahala berganda disisi Alah SWT, subhanallah…..

Sekarang giliran saya untuk mencari tempat “strategis” untuk menggelar sejadah dan menyimpan perbekalan saya dan seperti biasa saya memilih di pelataran/pendopo masjid karena dirasa cukup santai dan sejuk juga akses mudah menuju kamar kecil dan tempat wudhu jika dibandingkan kalau berada didalam masjid. Setelah itu saya pun mengambil air wudhu dan mendirikan shalat sunnah tahiyatul masjid dan tarawih secara munfarid, lalu saya lanjutkan untuk bertadarus Qur’an meneruskan “hanca” yang hanya baru sampai di juz 18 Qur’an surat Al-Mu’minuun “sepertinya saya tidak mencapai target akhir Ramadhan dengan mengkhatamkannya” ujar saya dalam benak, selama bertadarus dari menit menuju menit dari jam menuju jam jama’ah baru terus berdatangan memasuki area pelataran/pendopo masjid sepertinya malam ini masjid akan dipenuhi oleh jama’ah ‘itikaf dan memang malam ini adalah malam ganjil malam ke-25.

Jam pun menunjukan pukul 21.30 dan sepertinya shalat tarawih didalam masjid sudah selesai dan jama’ah pun berhamburan keluar dari dalam masjid untuk menuju tempat singgahnya yang banyak berada di pelataran/pendopo masjid, juga tak sedikit yang melihat-lihat diarea bazaar ataupun yang jalan-jalan mencari makanan dan jajajan yang bisa menghangatkan dan memulihkan stamina tubuh untuk melanjutkan shalat qiamulail ramadhan nanti malam pada pukul 01.00 dini hari, setelah tadarus saya pun mencoba menghilangkan rasa pegal pada bahu dan leher dengan melihat-lihat buku-buku islami, cd-cd islami, pakaian-pakaian slami, barang-barang ataupun accessories islami yang dijajakan oleh para pedagang dan kebetulan saya mencari mushaf Qur’an & terjemahnya terbitan CV.Dipenogoro dan setelah itu mata saya menemukannya lalu menelaah barang itu dan dikatakan ke pedagang itu “Sabaraha ieu kang..?” (Berapa ini mas?) “lima puluh rebu” sahut si penjual “ada diskon gak? Janten sabaraha?” (Ada diskonnya gak? Jadinya berapa?) tanya saya lagi, “ya paling jadinya empat puluh rebu” sahutnya lagi “tilu lima tiasa te kang?” (tiga lima bisa ga mas?) tutur saya lagi menawarnya “te tiasa kang, eta tos mirah” (gak bisa mas, itu dah murah) katanya lagi, tanpa banyak lagi saya menawar saya akhirnya membelinya dengan harga empat pulu ribu rupiah. Setelah itu sayapun mencari makanan di belakang pelataran/pendopo masjid tempat berkumpulnya pedagang makanan dan jajanan, sayapun memesan mie yamin untuk sekedar mengangatkan badan yang memang Bandung berhawa segar, sesaat saya menatap keatas dan terlihat langit yang ketika itu cerah dan bertaburan bintang-gemintang yang agak gemerlap lalu teringat pula saya akan sabda Rasululah saw: “Lailatul qodr adalah malam yang cerah, tidak panas dan tidak dingin, matahari pada hari itu bersinar kemerahan lemah.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah yang dishahihkan oleh Al Bani) dan juga sabdanya: ”Sesungguhnya aku diperlihatkan lailatul qodr lalu aku dilupakan, ia ada di sepuluh malam terakhir. Malam itu cerah, tidak panas dan tidak dingin bagaikan bulan menyingkap bintang-bintang. Tidaklah keluar setannya hingga terbit fajarnya.” (HR. Ibnu Hibban) dan terbersit dalam benak saya mungkinkah malam ini adalah malam yang dijanjikan Allah SWT untuk turunya malam Lailatul qadar???

Tak lama kemudian pesanan mie yamin saya pun disuguhkan dan bismillah…saya mulai menyantapnya sembari menikmati suasana sekitar masjid yang ramai oleh jama’ah hilir mudik ataupun oleh canda tawa anak-anak yang tengah bermain di pelataran/pendopo masjid, ya..itulah suasana yang saya anggap menentramkan jiwa walaupun hanya beberapa hari kemudian berlalu jika dibandingkan  dengan pemandangan hilir-mudiknya orang-orang dipasar ataupun di mal-mal yang sibuk dengan barang belanjaannya, ngomong-ngomong selagi menikmati mie ayam ternyata mie yamin pesanan saya tersebut bayak dikasih cabe/pedas oleh pedaganggnya dan saya tidak menyadarinya pikir saya daripada mubadzir mendingan dihabiskan dan tentuya lidah saya seperti kebakaran karena kepedasan walaupun sudah saya tambahkan kecap dan kuah yang cukup…..”aduhhhhh  ladaaa….” (aduh pedas), setelah diguyur oleh air minum pun tetap saja lidah saya panas dan merambat menuju perut tapi belum begitu terasa.

Sekitar jam 22.00 pun akhirnya saya menuju tempat istirahat dimana saya mengelar sejadah dan langsung mencoba untuk memejamkan mata ini, dan memang panitia merekomdasikan kepada seluruh jama’ah ‘itikaf agar beristirahat (tidur) sebantar dan nanti dibangunkan pada pukul 12.00 dini hari untuk persiapan melaksanakan shalat qiamul ramadhan, akhirnya sampailah pukul 12.05 dan panitiapun membangunkan jama’ah akhwat terlebih dahulu untuk berwudhu dan disusul setengah jam kemudian oleh jama’ah ikhwan setiap jama’ah ikhwan dan akhwat berwudhu selalu antri saking banyaknya sampai pada pukul 01.00 dini hari. Satu persatu jama’ah ikhwan dan akhwat menuju kedalam masjid dan memenuhi shaf dalam masjid sampai penuh dan alhamdulillah saya pun kebagian tempat untuk shalat didalam, beberapa saat jama’ah duduk sambil berdzikir munculah Imam masjid bernama Ust.Abdul Aziz Al-hafidz untuk mengimami jamaah shalat qiamul ramadhan, memang setiap tahunnya di bulan Ramadhan Ust.Abdul Aziz Al-hafidz senantiasa menyempatkan diri untuk memimpin jama’ah I’tikaf Ramadhan di Masjid raya Habibburrahman dan saya pun selaku jama’a sudah terbiasa dengan kefasihan ilmu dan bacaan Al-Qur’an beliau sehingga mungkin jikalau bukan beliau yang memimpin shalat qiamul lail di mesjid ini mungkin jama’ahnya tidak seramai ini. Dalam melaksanakan shalat qiamul lail di sepuluh malam terakhir ramadhan seperti biasanya panitia/imam masjid akan mengkhatamkan Al-qur’an 30 juz dalam bacaan shalatnya dengan targetan 1 malam sebanyak 3 juz dan dilakukan dalam dua raka’at salam sebanyak empat kali dan berdurasi selama dua jam setengah (01.00 s/d 03.30) dengan tiap raka’at salam kuranglebih berdurasi 30 menit.

Setelah salam dua raka’at pertama perut saya terasa mulas akibat dari efek pedas mie yamin yang sebelumnya saya makan akhirnya dalam jeda beberapa menit menuju rakaat berikutnya saya pun bergegas menuju kamar kecil dan alhamdulillah kebetulan lagi kosong karena biasanya jama’ah sudah banyak yang antri untuk masuk ke kamar kecil beda halnya dengan berwudhu cukup banyak tersedia kran air, beberapa menit kemudian Imam pun melanjutkan 2 raka’at shalat qiamul Ramadhan nya beberapa menit kemudian Alhamdulillah saya keluar dari kamar kecil dan meneruskan masuk ke masjid untuk shalat berjama’ah, dan begitulah selama 2 kali raka’at salam saya mondar-mandir ke kamar kecil.

Alhamdulillah sampailah dipenghujung shalat qiamul lail walaupun terasa kaki ini pegal-pegal karena cukup nya berdiri untuk shalat (walaupun jauh bila dibandingkan dengan shalat lailnya Rasulullah saw yang semalaman suntuk. Shalu ‘alaihiwasalaam wa ‘alaika yaa rasulullah…) dan mondar-mandir ke kamar kecil. Dan tibalah untuk melaksanakan shalat witir 3 rakaat, jama’ah pun tetap memadati shaf dalam masjid dan seperti biasa pada rakat pertama Imam membaca surat Al-‘Alaa, rakaat kedua membaca surat Al-Kafiruun, rakaat ketiga membaca surat Al-Ikhlash-Al-Falaq-An-Naas dan pada posisi  ‘itidal di rakaat ketiga (terakhir) seperti biasa Imam membaca do’a-do’a, do’a demi untaian do’a yang dilafalzkan oleh sang Imam dengan tartil dan sangat menjiwai mulailaih badan ini merinding tatkala do’a itu terdengar sebait-demi sebait do’a ini sampai ditelinga dan menghujam didalam sanubari sehingga mulailai mata ini terasa memerah dan perlahan mengeluarkan titik demi titik air mata menetes membasahi pipi dan mulut ini dibarengi tak terbendunginya sedikit isak tangis karena merasa diri sangat hina dan kerdil di hadapanNYA yang Maha Suci dan Maha Akbar, jama’ah yang lainpun baik ikhwan maupun akhwat hampir dipastikan bersimbah air mata dan gemuruh suara isak tangis yang tak terbendungkan.

Allahu Kariim….dalam benak saya apakah ini merupakan malamnya Lailatul qadar bagi saya…..dimana malam ini menjadi malam pengampunan atas segala dosa-dosa saya di masa lalu….apakah ramadhan ini menjadi ramadhan yang terindah bagi saya…..dimana setiap do’a dikabulkan atas izin-Nya? dimana amal shalih dilipatgandakan berkali-kali lipat?

Allahumma Innaka ‘Affuwun Kariim Tuhibul ‘Afwa Fa’fu anna, Allahumma inna nas’aluka ridhaka wal jannah wanau’dzubika min syakhatika wa naar.

Rasulullah saw bersabda:”Barangsiapa melakukan qiyam lailatul qodr dengan penuh keimanan dan pengharapan (maka) dosa-dosanya yang telah lalu diampuni.” (HR. Bukhari (4/217) dan Muslim (759)

Allahu’alaam, Insya Allah.

Entry filed under: 63420. Tags: .

Ciri-ciri Malam Lailatul Qodr Minal ‘aidzin wal fa’idzin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Subscribe to the comments via RSS Feed


.:My Profile:.


Just one of a weak 'Abdullah', n try to be a real Islamic struggler

Posts

September 2009
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Itung Pengunjung:

  • 340,139 lawatan

%d blogger menyukai ini: