Misi Pluralisme di Balik Novel Ayat-ayat Cinta

April 4, 2008 at 3:26 am 13 komentar

pluralismeaac

“Ahlu dzimmah adalah semua non Muslim yang berada di dalam negara kaum Muslimin, masuk secara legal, membayar visa, punya paspor, hukumnya sama dengan ahlu dzimmah, darah dan kehormatan mereka harus dilindungi,” katanya. Sebagai pembenaran atas pembelaannya pada bule Amerika itu, penulis mencomot sebuah hadits: “Barangsiapa menyakiti orang dzimmi, dia telah menyakiti diriku, dan siapa yang menyakiti diriku berarti dia menyakiti Allah.”. Padahal, menempatkan touris asing sebagai dzimmi di negeri Muslim bukan saja tidak memiliki argumentasi syar’iyah, tetapi juga merusak tatanan syar’i secara keseluruhan.

Pesona Novel Ayat-ayat Cinta, telah menjulangkan nama penulisnya, Habiburrahman el-Shirazy, ke posisi Tokoh Perubahan 2007 versi Republika. Seperti sastrawan dan budayawan Mesir Mahmud Abbas al-Aqqad, Thaha Husein dan lainnya, yang menjadi makelar zionis melalui gagasan multikultural dan multikeyakinan. Agen zionis, memang tidak pernah kehilangan cara untuk menemukan kaki tangan di bidang sastra dan budaya. Membaca novel ayat ayat cinta menyisakan beragam kesan. Mungkinkah penulisnya dianggap figur yang tepat sebagai makelar zionisme melalui misi pluralisme agama? LAHIR di Semarang, Kamis 30 September 1976, Habiburrahman el-Shirazy, memulai pendidikan menengahnya di MTs Futuhiyyah 1 Mranggen; sambil belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al-Anwar, Mranggen, Demak di bawah asuhan KH. Abdul Bashir Ham-zah. Pada tahun 1992 ia merantau ke kota budaya Surakarta untuk belajar di Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Surakarta, lulus pada tahun 1995.

Setelah itu melanjutkan pelajaran ke Fakultas Ushuluddin, Jurusan Hadits di Universitas Al-Azhar, Kairo dan selesai pada tahun 1999. Pada tahun 2001 lulus Postgraduate Diploma (Pg.D) S2 di The Institute for Islamic Stu-dies di Kairo yang didirikan oleh Imam Al-Baiquri. Kembali ke tanah air pada pertengahan Oktober 2002, ia diminta ikut mentashih Ka-mus Populer Arab-Indonesia yang disusun oleh KMNU Mesir dan diterbitkan oleh Diva Pustaka Jakarta, (Juni 2003). Ia juga menjadi kontributor penyusunan Ensiklopedi Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Pemikirannya, (terdiri atas tiga jilid ditebitkan oleh Diva Pustaka Jakarta, 2003).

Antara tahun 2003-2004, ia mendedikasikan ilmunya di MAN I Jogjakarta. Selanjutnya sejak tahun 2004 hingga 2006, ia menjadi dosen Lembaga Pengajaran Bahasa Arab dan Islam Abu Bakar Ash Shiddiq UMS Surakarta. Saat ini ia mendedikasikan dirinya di dunia dakwah dan pendidikan lewat karya-karyanya dan pesantren Karya dan Wirausaha Basmala Indonesia bersama adik dan temannya.

Dengan reputasi demikian, beralasan bila sebagian pembaca mengidolakannya bagai HAMKA Muda. Seperti juga dalam bidang pemikiran dan politik, khalayak Indonesia pernah menyematkan nama Natsir Muda pada diri Nurcholish Madjid. Apalagi penulis ‘Ayat-ayat Cinta’ cukup berprestasi internasional yang lama menimba ilmu di al-Azhar Mesir, dan akrab dengan budayawan serta novelis di Mesir yang terkenal sebagai sarang pembinaan zionis.

Touris dan Dzimmi

Begitu gegap gempita publikasi Novel Ayat-ayat Cinta, menyebabkan banyak pembaca kehilangan daya kritis. Sehingga nyala api pluralisme menerobos masuk imajinasi penulis, tak dirasa adanya. Pada mulanya, barangkali sekadar titipan ide, namun jelas titipan dimaksud menjadi ide sentral rangkaian kisah cerita Novel Ayat-ayat Cinta. Pada bagian ketiga di bawah judul ‘Kejadian di Dalam Metro’ misalnya, berlangsung cekcok antara rombongan turis Amerika dengan penumpang asli Mesir yang meledakkan ama-rahnya pada bule-bule itu, sebagai ganti kejengkelan mereka pada pemerintah Amerika yang arogan dan mem-bantai umat Islam di Afghanistan, Iraq, dan Palestina. Namun, dalam cekcok tersebut penulis menyalahkan orang Mesir, dan memosisikan touris kafir yang berkunjung kenegara-negara berpenduduk Islam seperti Mesir sebagai ahlu dzimmah yang memiliki hak-hak kekebalan diplomatik, dengan manipulasi dalil agama. “Ahlu dzimmah adalah semua non Muslim yang berada di dalam negara kaum Muslimin, masuk secara legal, membayar visa, punya paspor, hukumnya sama de-ngan ahlu dzimmah, darah dan kehormatan mereka harus dilindungi,” katanya.

Sebagai pembenaran atas pembelaannya pada bule Amerika itu, penulis mencomot sebuah hadits: “Barangsiapa menyakiti orang dzimmi, dia telah menyakiti diriku, dan siapa yang menyakiti diriku berarti dia menyakiti Allah.”

Padahal, menempatkan touris asing sebagai dzimmi di negeri Muslim bukan saja tidak memiliki argumentasi syar’iyah, tetapi juga merusak tatanan syar’i secara keseluruhan. Persoalannya, bukan pada perlakuan kasar atau halus terhadap touris, melainkan pada posisi yang disematkan, bahwa touris tidak sama dengan ahlu dzimmah, baik hak maupun kewajibannya. Pembayaran visa tidak bisa disamakan dengan jizyah. Sebab, legalitas hukum bagi touris dan ahlu dzimmah memiliki perbedaan-perbedaan sehingga mengakibatkan konsekuensi hukum yang berbeda pula.

Perbedaan itu antara lain: Pertama, Ahludz dzimmah (dzimmi) adalah orang kafir yang menjadi warganegara Negara Islam. Sedangkan touris tidak memiliki hak kewarganegaraan, dan hanya memiliki hak pelayanan sebagai tamu.

Kedua, Dzimmi mem-punyai hak dan kewajiban sebagai warga negara. Bila-mana pemerintah tidak bisa memenuhi hak kewarganegaraan orang dzimmi, maka mereka tidak wajib lagi membayar jizyah (pajak). Sedangkan pembayaran visa touris yang berkunjung ke sebuah negara Islam tidak dapat dianggap sebagai jizyah, karena orang Islam yang bukan penduduk negara yang dikunjunginya juga harus membayar visa. Apakah orang Islam yang berkunjung ke negara Islam juga dianggap dzimmi oleh pemerintah negara tempat dia berwisata?

Ketiga, pada keadaan darurat, pemerintah negara Islam dapat mewajibkan penduduk dzimmi untuk menjalani wajib militer. Berbeda dengan touris, apabila datang ke suatu negara yang sedang dalam keadaan darurat perang tidak bisa dipaksa ikut wajib militer bagi negeri yang dikunjunginya.

Perbedaan prinsip di atas, nampaknya kurang dipahami oleh penulis novel, dan lebih terpesona dengan misi kemanusiaan global yang menjadi gerak nafas pluralisme; sehingga menghilangkan kewaspadaan. Boleh jadi touris itu justru musuh yang sedang menyamar, meneliti, atau menjalankan misi intelijen. Novelis muda lulusan filsafat Al-Azhar Cairo itu, bergaya ulama besar ahli fiqih dan ahli hadits berkaliber dunia, lalu mengintroduksi hadits dzimmi sebagai ‘ijtihad cemerlang’.

Untuk menetralisir kecurigaan, dan menangkal virus berbahaya ter-utama bagi pembaca muda yang jadi sasaran utama novel ini, sebenarnya penulis dapat mengimbanginya dengan wacana pemikiran yang adil, bahwa dalam banyak kasus kedatangan touris-touris kafir di negeri Islam membawa dampak kerusakan moral dan sosial di tengah masyarakat muslim. Bahkan sebagian sengaja disusupkan sebagai mata-mata terselubung. Fakta ini dapat terlihat jelas dan ditemukan oleh para pejabat intelijen negara bahwa touris biasa dipakai kedok oleh para agen intelijen untuk menjalankan operasinya. Namun, penulis lebih mendahulukan ‘baik sangka’ daripada waspada, suatu sikap yang telah membuat umat Islam berulangkali tertipu dan dininabobokkan gagasan harmonisasi antar umat beragama, tanpa mempertimbangkan akibatnya yang berbahaya.

Namun penulis alfa melakukannya. Maka, tidak aneh bila terdapat pembaca kritis mempertanyakan, misi siapa yang hendak dipasarkan oleh penulis di balik novelnya yang best seller tersebut? Dilihat dari simplifikasi penggunaan dalil-dalil agama untuk menopang argumentasi, dan memanipulasi tujuan politik yang halus, merupakan ciri khas komprador zionisme yang bergentayangan di tengah-tengah masyarakat Muslim. Maka bukan mustahil, Novel Ayat-ayat Cinta yang sudah 30 kali cetak ulang dengan tiras 500 ribu eksemplar, menjadi pembuluh darah halus yang mengalirkan misi pluralisme agama yang telah diformat oleh zionis-me internasional dan dipasarkan di tengah-tengah masyarakat Muslim Indonesia.

Tanpa pretensi ‘buruk sangka’ terhadap novelis muda Habiburrahman, kisah sampingan yang ditampilkan berkaitan dengan touris Amerika itu, kita perlu mewaspadai adanya celupan misi zionis dalam obrolan seperti Kejadian di Dalam Metro itu. Sudah banyak pemuda yang diperalat untuk mengembangkan faham toleransi dan pluralisme agama melalui tokoh-tokoh Indonesia yang di-anggap cemerlang dan ber-pengaruh.

Artikel Ini Kerjasama antara:
Arrahmah.com dengan Risalah Mujahidin edisi 17
Rubrik Musykilah
http://www.arrahmah.com
The State of Islamic Media

Entry filed under: Friends. Tags: .

Teka-teki Imam Al-Ghazali Surat Terbuka untuk Remaja Muslim Indonesia

13 Komentar Add your own

  • 1. Aristiono Nugroho  |  April 4, 2008 pukul 8:57 pm

    Assalamu’alaikum Wr.Wb.
    Boleh jadi penulis “Ayat-Ayat Cinta” keliru memposisikan turis kafir dalam konteks nilai-nilai Islam.
    Tetapi menyebut yang bersangkutan sebagai agen zionis, adalah terlalu berlebihan.
    Sebaiknya, kritik dan ingatkanlah yang bersangkutan dengan lemah lembut (santun).
    Bukankah Allah SWT berpesan, agar kita (muslim) lemah lembut terhadap sesama muslim, dan tegas terhadap orang-orang kafir.
    Untuk share silahkan klik http://sosiologidakwah.blogspot.com
    Wassallamu’alaikum Wr.Wb.

    Balas
  • 2. abe joe  |  April 9, 2008 pukul 12:55 pm

    saya agak setuju dengan kata2 tersebut… saya ada menyaksikan klip2 dari filem ini. Musik yang dimainkan mempunyai semilarity dengan cerita schindler list yang pernah diarahkan oleh steven speilberg.

    Balas
  • 3. zoelzz  |  Mei 17, 2008 pukul 6:12 am

    tanpa b’maksud membela
    saya hanya ingin mengatakan mungkin niat dibalik kejadian di metro hanyalah sebuah kegerahan akan kekerasan yang kini malah mencerminkan islam yang sebenarnya indah.
    memang kita harus keras terhadap orang kafir, tapi Rasulullah saw tentu tidak pernah menngajarkan kita untuk kasar tanpa sebab. bukankah kesalahan yang dilakukan orang lain tidak dapat dilimpahkan pada orang lain? begitu juga dgn mereka, kita juga tidak boleh munafik bahwa banyak warga amerika yg menentang bush untuk urusan “kemanusiaan”.
    sekali lagi tanpa maksud membela karena saya juga SANGAT MEMBENCI pluralisme
    apa tidak lebih baik melihat akhir indah dari menjadi muallafnya orang asing di metro itu (alicia)

    kalau untuk masalah segala sesuatu tentang filmnya,
    saya akui, saya malah SANGAT TIDAK SUKA
    ada banyak pesan yang tak sampai disana dan parahnya lagi terlalu banyak pesan yang menjadi ambigu dan rancu.
    dan itu, saya jamin akibat tak sesuainya ilmu agama yg dimiliki pembuat film.
    saya juga heran Ikhlaskah kang abik novel indahnya diacak- acak seperti itu?
    semoga film, video klip tak ada hubungannya dengan kang Abik yang diharap dapat meningkatkan ghirah islam melalui tulisan- tulisannya

    Balas
  • 4. wahyu  |  Mei 25, 2008 pukul 5:25 pm

    saya terus terang kurang mengerti ilmu agama ,saya sedang mencoba menerapkannya, menarik memang novel ayat2x cinta yang laris manis di katakan itu ternyata membawa misi pluralisme zionis,mungkin ada benarnyapenjelasan di atas terhadap kejadian di metro ato kereta itu ada kesalah pahaman atau maksud tertentu penulis dalam cerita itu,saya punya pengalaman unik terhadap novel nya,saya belum pernah membaca novel dalam waktu singkat,biasanya satu buah novel saya selesaikan dalam waktu 3 hari,tp pd ayat2x cinta saya bisa selesai dalam 2 hari dan bisa di bilang tersentuh,tersentuh kenapa?karena saya belum pernah membaca novel tentang agama yang penyampaiannya begitu mengalir dan tidak bermaksud menggurui,terutama ketika membaca kutipan salah satu ayat di alqur an “nikmat tuhan manakah yang kamu dustakan?”,seakan kita tersadar betapa banyak nikmat tuhan yang kita abaikan,yang begitu berpengaruhnya kata2x itu,hingga teman saya (maaf) seorang yang dapat di bilang hampir tidak pernah menjalankan syariat agama,seperti tersentak dan langsung tersadar untuk belajar mengamalkan ajaran islam,dan itu terjadi tidak hanya satu atau dua orang tetapi mungkin ribuan orang,saya pernah berbagi cerita dengan seorang tokoh agama yang cukup di segani dia mengatakan memang di buku ayat2x cinta itu ada keanehan yang mungkin menimbulkan pertentangan,tetapi kenapa tidak dilihat dari sisi penyampaian syiar agama nya? bukankah mengajak orang ke masjid itu lebih sulit daripada ceramah di majelis taklim…?

    Balas
  • 5. ii  |  Juli 18, 2008 pukul 5:04 am

    menurut saya tindakan di metro sudah benar dengan tindakannya tapi salah dalam penyampaian dakwahnya kenapa ga bilang saja kita harus berbuat baik sesama manusia

    gitu aja susah

    Balas
  • 6. eri  |  Agustus 2, 2008 pukul 12:41 pm

    Assalamulaikum.
    mungkin artikel di atas ada benarnya dalam upaya memberikan kajian kritis. tapi mungkin juga Habiburrahman el-Shirazy tidak bermaksud seperti sangkaan penulis dikarenakan ada kemungkinan pemahaman Habiburrahman tidak sejauh penulis, dia hanya bermaksud memberi contoh bukankah islam rahmatanlil’alamin dan saya juga setuju dengan pandangan saudara Zoelzz.
    saya rasa dalam memberikan kajian kritis boleh-boleh saja dan tentu itu bisa bersifat membangun, tapi harus pula berhati-hati dalam melemparkan argumen kritis tersebut jangan sampai alih-alih mengkritisi malah jadi memfitnah. bukankah itu berbahaya.

    Balas
  • 7. nelly  |  September 19, 2008 pukul 6:17 am

    tidak ada gading yang tak retak,begitu juga dengan pengarang ayat-ayat cinta,tapi dengan mengatakan pengarangnya antek ziones terlalu berlebihan.dan sebaiknya anda koreksi diri anda dulu sebelum mencari kesalahan orang lain

    Balas
  • 8. rivai  |  Oktober 23, 2008 pukul 7:45 am

    Saya setuju dengan kritikan Anda mengenai validitas AAC yang bisa diragukan. Tapi saya agak risih dengan label ‘zionis’ yang Anda sematkan dimana-mana. Saya membaca berbagai media Islam yang menamakan diri mereka ‘media-media jihad’, dan yang saya dapat adalah pelabelan zionis secara membabi-buta terhadap orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka. Apakah semudah itu melabeli seseorang dengan tuduhan zionis? Apa karena seseorang keliru dalam pemahaman agama, lantas ia bisa kita tuduh sebagai zionis? Saya agak maklum juga, sebab berbagai penindasan dan peperangan telah membuat umat Islam dewasa ini menjadi sangat paranoid. Hal yang sama juga terjadi pada orang-orang non-Islam yang paranoid terhadap Islam (Islamophoia). Akhirnya, paranoid ketemu paranoid, saling berperanglah mereka, dan sulit untuk didamaikan.

    Balas
  • 9. kumlo al abbas  |  Oktober 24, 2008 pukul 5:07 am

    mendingan baca laskar pelangi aja…………………………………………………..

    Balas
  • 10. HAMKA  |  Oktober 24, 2008 pukul 5:09 am

    baca buku pelajaran aja yuk……………………biar pinter

    Balas
  • 11. Eri Kurniawan  |  Desember 24, 2008 pukul 4:02 pm

    Pertama, kita harus bisa memisahkan antara novel dengan filmnya. Toh yang bikin film bukan penulisnya. Dan, saya sepakat filmnya belum bisa menuangkan nilai islami dalam novel. Oleh karenanya, penilaian kita terhadap film Ayat2 Cinta tidak boleh disamakan dengan penilaian kita terhadap novelnya.

    Kedua, pengamatan penulis blog ini cukup kritis tapi judgmental, karena penghakiman yang dibuat hanya sebatas hipotesis. Betulkah penulis tahu latar belakang Habiburahman sampai ke social circle dia di Mesir? Seberapa persenkah novelis ‘zionis’ Mesir yang memang kenal dekat dengan Habiburahman sampai bisa mempengaruhi pemikirannya? Kalau betul Habiburahman punya misi zionis, maka dalam penilaian saya dia cukup bodoh kalau hanya menyisipkan misi dalam potongan dialog yang tidak begitu signifikan dalam cerita. Coba saja survei sederhana, seberapa banyak orang ingat aksi di metro tersebut. Bandingkan dengan kesan yang orang peroleh dari substansi keseluruhan novel ini.

    Saya hanya ingin mengajak kita bersama untuk tetap kritis tapi jangan juga sebatas hipotetis, terlalu naif apalagi menghakimi sama saudara sendiri yang mungkin amalnya (dalam hal ini novel) sudah membuat puluhan atau bahkan ratusan orang kembali ke jalan-Nya. Bayangkan apabila penghakiman yang hipotetis ini tersebar ke publik tapi ternyata hanya sebatas hipotesis, apa yang akan Anda lakukan untuk memperbaikinya?

    Wallahu ‘Alam

    Balas
  • 12. TUBAGUS  |  Januari 1, 2009 pukul 6:12 pm

    ALLOH MAHABESAR!MAHASUCI ALLOH! Sdr 1iman,bgmn klo kt spkt,sgla grk dlmIslam,ats nm islam,sma kesan kt smpn dlm Rmh kt

    Balas
  • 13. andri  |  April 19, 2009 pukul 3:10 pm

    terlalu berlbhn jika smpai menuding penulis sbgai antek zionis.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Subscribe to the comments via RSS Feed


.:My Profile:.


Just one of a weak 'Abdullah', n try to be a real Islamic struggler

Posts

April 2008
S S R K J S M
« Jan   Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Itung Pengunjung:

  • 340,139 lawatan

%d blogger menyukai ini: